"Kerja Keras, Cerdas, Gotong-Royong"

Profile Yayasan Damandiri

Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau disebut Yayasan Damandiri didirikan pada tanggal 15 Januari 1996 oleh HM Soeharto sebagai pribadi, yang kebetulan saat itu menjabat Presiden RI. Sebagai pendiri, HM Soeharto dipercaya sebagai ketua yayasan, dibantu oleh Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai Wakil Ketua I, Sudwikatmono sebagai Wakil Ketua II, dan Liem Soei Liong sebagai Wakil Ketua III.

 

Tujuan utama yayasan adalah membangun sumber daya manusia, utamanya dari keluarga kurang mampu, dengan menempatkan yayasan sebagai wadah bagi masyarakat untuk bergotong-royong mewujudkan tingkat kesejahteraan sejati dan taraf hidup mandiri. Modal awal Yayasan dihimpun dari sumbangan yang ikhlas dari wajib pajak yang berasal dari keuntungan setelah dipotong pajak untuk membantu mewujudkan keluarga sejahtera secara merata.

 

Kiprah Yayasan ini diawali dengan memberdayakan Keluarga, utamanya Ibu-Ibu, yang telah menjadi akseptor KB dengan mengajak mereka bergabung dalam kelompok Usaha Peningkatan Keluarga Sejahtera atau UPPKS atau kelompok Pengetasan Kemiskinan atau Taskin yang diharapkan menjadi embrio gerakan koperasi. Melalui kelompok ini para anggota bergerak dalam berbagai program pemberdayaan keluarga Program ini dilaksanakan bersama BKKBN, Bank BNI dan pemerintah daerah. Para ibu-ibu anggota dilatih belajar menabung berupa Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra). Mereka yang mempunyai tabungan Takesra diberi kesempatan untuk mengambil kredit dengan bunga rendah karena disubsidi yaitu Program Kredit Usaha Kelurga Sejahtera (Kukesra). Harapannya adalah bahwa dengan kemampuan ekonomi yang lebih baik keluarga Indonesia mampu memberi perhatian yang baik pada kegiatan KB, kesehatan, dan sekolah anak-anaknya.

 

Yayasan Damandiri memberi prioritas pada pemberdayaan perempuan (ibu-ibu) karena sehari-hari kaum ibu bergulat mengembangkan sosialisasi anak-anaknya.

 

Dalam masyarakat atau keluarga miskin biasanya sumber penghasilan keluarga mengandalkan suami. Peran istri terbatas mengurus anak atau keadaan rumah tangga di rumah. Padahal keluarga kurang beruntung umumnya berpendidikan rendah. Keterampilan juga rendah. Jarang berfikir untuk jangka panjang. Dalam keadaan keluarga miskin anak-anak lebih banyak diharapkan membantu orang tua dengan kesibukan sehari-hari di rumah. Keluarga miskin tidak berdaya akibat pendidikan dan ketrampilan rendah, tidak memiliki modal dan jaringan usaha. Umumnya keluarga miskin yang hanya mengandalkan penghasilan suami, sulit bahkan tidak bisa bangkit dari himpitan kemiskinaa Dengan latihan menabung dan dukungan kredit keluarga sejahtera diharapkan seorang istri bisa bangkit membantu suami berwirausaha. Jika suami istri sama-sama berusaha, berarti menyatukan dua kekuatan yang tentu saja lebih baik dan membuka kesempatan untuk hidup lebih sejahtera.

 

Dalam kelompok UPPKS dan adanya bantuan kredit Kukesra, ibu-ibu belajar bersama dan membuka usaha secara mandiri. Program tersebut mendapat sambutan yang luar biasa. ffingga tahun 2002 jumlah keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I yang mempunyai tabungan Takesra mencapai lebih dari 13,6 juta keluarga dengan jumlah tabungan Takesra lebih dari Rp 250 milyar. Dari jumlah tersebut ada sekitar 10,4 juta keluarga telah mengambil kredit Kukesra dengan jumlah mencapai lebih dari Rp. 1,7 triliun.

 

Dalam perkembangannya, pada tahun 2001-2002 ada sekitar 21.000 sampai 25.000 kelompok yang berhasil mengembangkan usaha mandiri. Diantara mereka ada yang usahanya yang menonjol dan berkembang menjadi usaha kecil, usaha menengah, atau bergabung dalam koperasi dan relatif berhasil dengan baik. Kepada yang berhasil, dengan koordinasi Menkokesra (pada pemerintahan Presiden BJ Habibie) diberi kesempatan mengambil kredit bara yaitu Kredit Pengembangan Kemitraan Usaha (KPKU), Kredit Taskin, dan skiin kredit lain yang dikelola bersama dengan berbagai departemen dan instansi daerah.

 

Untuk melanjutkan kebutuhan masyarakat yang makin meningkat, khususnya melayani kelompok-kelompok yang makin mandiri tersebut, Yayasan Damandiri menyalurkan skim kredit baru bernama Pembinaan Usaha Keluarga Sejahtera Mandiri atau Pusaka Mandiri (Pundi) dan Kredit Sudara Kredit tersebut adalah kredit bidang usaha, perluasan usaha, peningkatan kemampuan manajemen, pemasaran, dan petigembangan modal. Oleh karena itu kredit ini diutamakan untuk kelompok atau perorangan yang dinilai berhasil memanfaatkan kredit Kukesra atau skim kredit lainnya Sampai tahun 2007 jumlah peserta kredit Pundi dan Sudara telah mencapai lebih dari 250.000 nasabah dengan jumlah dana bergulir sebagai modal awal sebesar Rp 827,8 milyar. Kedua jenis kredit dengan bunga pasar dan subsidi bunga untuk kelompok tertentu tersebut disalurkan melalui 44 bank mitra Yayasan, yaitu 2 bank umum, 12 Bank Pembangunan Daerah, dan 30 Bank Perkreditan Rakyat.

 

Dalam bidang kesehatan, Yayasan Damandiri memberikan bantuan berupa anjuran kepada lebih dari 100 Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk memberikan perhatian dan komitmen terhadap pembangunan mutu sumber daya manusia melalui ceramah pencerahan, anjuran untuk membangun dengan menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan, dan mengajak bidan kembali ke desa. Ajakan kepada bidan kembali ke desa itu disertai dukungan kredit mikro untuk bidan desa melalui bank mitra. Dengan membawa bidan kembali ke desa diharapkan perhatian pemerintah daerah dan masyarakat akan kesehatan ibu dan anak bertambah tinggi. Dengan perhatian yang makin tinggi itu bidan di pedesaan tidak hanya melayani masalah persalinan saja tetapi juga semua aspek kesehatan ibu dan anak. Untuk membantu tugas itu Yayasan Damandiri memberikan kredit untuk menyelesaikan syarat sertifikasi bidan praktek dan modal untuk penyediaan obat-obatan dan peralatan praktek yang berkulaitas di pedesaan. Dengan bantuan kredit itu, bidan di desa bisa mengikuti pendidikan sesuai dengan tuntutan kualifikasi yang dipersyaratkan dalam profesi kebidanan, membuka praktek di desa, dan akhimya betah tinggal di desa walaupun berada di daerah terpencil. Hingga awal tahun 2007, Yayasan Damandiri telah memberikan bantuan dan kredit kepada sekitar 4.000 bidan di desa.

 

Dalam bidang pendidikan atau pengembangan SDM, Yayasan Damandiri mengembangkan kerjasama dengan lebih dari 30 Perguruan Tinggi di Indonesia. Kerjasama awal dilakukan dengan membantu mahasiswa anak keluarga kurang mampu yang telah memasuki semester ke 7 atau ke 8 untuk segera menyelesaikan kuliahnya dengan mengganti biaya SPP mereka agar dana yang mereka miliki dapat dipergunakan untuk keperluan lain yang biasanya meningkat menjelang masa akhir kuliah. Selama tiga tahun setiap perguruan tinggi mendapat jatah bantuan SPP untuk 50 - 100 mahasiswa kurang mampu dari Yayasan Damandiri. Setelah timbul pengertian yang mendalam tentang pemberdayaan dan peningkatan mutu SDM dengan berbagai perguruan tinggi tersebut, Yayasan Damandiri mengajak PT mitra untuk bekerja sama mengembangkan mutu anak-anak didik pada 200 Sekolah Menengah Atas (SMA) di 100 kabupaten/kota. Metoda yang dipergunakan adalah mengembangkan SMA yang kualitasnya biasa-biasa saja itu menjadi SMA Unggul yang diukur dari kualitas siswanya. Pada setiap sekolah yang terpilih, 10-20 guru dan kepala sekolahnya diberikan kesempatan untuk magang di sekolah yang dianggap unggul.

 

Disamping itu pada setiap sekolah dipilih 20 - 60 siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk diberikan pelatihan keterampilan dan dititipkan untuk magang pada pengusaha di sekitar sekolah. Kepada pengusaha yang bersedia dititipi siswa magang anak keluarga kurang mampu diberikan pinjaman modal usaha bergulir Rp 500 ribu/siswa. Disamping itu, untuk menunjang kegiatan akademik, setiap sekolah dianjurkan mengembangkan perpustakaan virtual dengan mengjrim pengurus perpustakaan sekolah untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Damandiri. Setelah latihan dan ada kesediaan untuk mengembangkan perpustakaan, setiap sekolah diberikan bantuan perangkat komputer dan buku-buku ketrampilan untuk kegiatan pelatihan lifeskills. Melalui upaya ini diharapkan mutu akademik dan keterampilan anak-anak akan meningkat. Kenaikan mutu akademik dan keterampilan siswa yang lulus merupakan indikator keberhasilanya atau keunggulan sekolah yang dikembangkan. Siswa sekolah unggul yang berkembang tidak menganggur, karena dapat melanjutkan sekolah ke PT pavorit atau bekerja atau menjadi wiraswasta.

 

Keberhasilan usaha ini adalah karena adanya kerjasama Yayasan Damandiri dengan Perguruan Tinggi ternama membina SMA yang dikembangkan menjadi SMA Unggul. Dalam kerjasama ini para mahasiswa S-l dari keluarga kurang diberikan bantuan SPP untuk bersama dosennya membimbing siswa-siswa dari program SMA Unggul. Untuk merangsang perhatian dan pemikiran yang memihak kepada upaya pemberdayaan sumber daya manusia dan pengentasan kemiskinan, kepada mahasiswa pascasarjana Yayasan Damandiri menyediakan hadiah bagi Tesis atau Disertasi yang memenuhi syarat dan terbaik tentang pemberdayaan sumber daya manusia, penanganan masalah sosial pada umumnya dan pengentasan kemiskinan. Hadiah yang disediakan besamya antara Rp 5.000.000,- sampai Rp. 50.000.000,- untuk setiap mahasiswa, yang setiap tahun disediakan untuk 200 mahasiswa.

 

Untuk menjamin partisipasi yang aman dan mantab, kepada para peserta program, Yayasan Damandiri, bekerjasama dengan Perusahaan Asuaransi Bumi Putera dan Bumi Putera Muda (Bumida), dijamin dengan asuransi kecelakaan. Asuransi itu adalah Asuransi Usahakoe yang diberikan kepada lebih dari 100.000 nasabah Kredit Pundi dan Sudara yang disalurkan oleh Yayasan Damandiri kepada Bank mitranya. Kepada sekitar 4.500 orang tua keluarga kurang mampu dari siswa SMA terpilih disediakan Asuransi Siswakoe atau asuransi pendidikan agar apapun yang terjadi pada orang tuanya anak mereka tetap menyelesaikan sekolah secara tuntas. Untuk merangsang semangat pembangunan kepada para wartawan, mitra kerja Yayasan diberikan, diberikan juga asuransi kecelakaan yang memadai. Asuransi Usahakoe atau Siswakoe memberikan jaminan kecelakaan kepada pelaku usaha Kredit Pundi dan Kredit Sudara dan orang tua siswa Mitra Yayasan Damandiri. Bagi nasabah yang mengalami resiko meninggal dunia akibat kecelakaan akan mendapat bantuan untuk keluarganya sebesar Rp 5.000.000,-ditambah sumbangan pemakaman Rp 1.000.000. Nasabah yang mengalami resiko cacat tetap akibat kecelakaan akan memperoleh bantuan setinggi-tingginya Rp 5.000.000.

 

Sebagai upaya pemberdayaan keluarga dan pembangunan manusia untuk mencapai sasaran MDGs yang telah dicanangkan pemerintah, sekaligus sebagai ajang pelatihan untuk para mahasiswa dan siswa yang mengikuti program Yayasan Damandiri, mulai tahun 2007 dikembangkan program pemberdayaan tingkat pedesaan melalui Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Posdaya adalah forum kebersamaan yang anggotanya diharapkan mengambil prakarsa dan melakukan kegjatan nyata memberdayakan dan membangun SDM dalam lingkungannya, yaitu RT, RW, dukuh atau dusunnya. Upaya pembangunan ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan dan kemampuan peran keluarga dalatn melaksanakan 8 fungsinya, yaitu fungsi keagamaan, fungsi budaya, ftmgsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi dan kesehatan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi atau wirausaha, dan fungsi lingkungan.