"Kerja Keras, Cerdas, Gotong-Royong"

1 year ago admin

Posdaya Bisa Jadi Solusi Hadapi Tantangan Proxy War

Pentingnya keberadaan Posdaya guna menghadapi tantangan global. Posdaya yang digagas Penasehat Dewan Pembina Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dinilai sebagai senjata utama untuk menghadapi perang proksi atau proxy war, yang saat ini telah berlangsung dan sedang dihadapi bangsa ini.

Hal itu diunkapkan Ketua Yayasan Damandiri Subiakto Tjakrawerdaja dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan Observation Study Tour (OST) dan Pelatihan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Angkatan 109 di Haryono Suyono Center, Gedung Siti Padmirah Silver College Jl Pengadegan Barat 4, Jakarta Selatan, (26/2) lalu.

Peserta OST Angkatan 109 terdiri dari utusan Pemerintah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ikut serta dalam kegiatan ini, antara lain Ketua TP PKK Kabupaten Tegal Nurlaelah Enthus Susmono yang langsung memimpin rombongan peserta angkatan ke-109 ini.

Mereka siap menjadikan Posdaya sebagai senjata untuk menghadapi tantangan global.
Acara yang digelar Haryono Suyono Center (HSC) bekerja sama dengan Yayasan Damandiri dan Siti Padmirah Silver College.

Ratusan peserta dari SKPD Kabupaten Tegal, Tim PKK Kabupaten Tegal, Dharma Wanita se-Kabupaten Tegal, Jateng dan BPPKB Kota Probolinggo, Jawa Timur, serta dari daerah lainnya antusias mengikuti acara ini. Mereka disambut langsung tuan rumah Prof Dr Haryono Suyono dan Ibu Hj Astuti Hasinah Haryono.

Nampaknya peserta tidak hanya dari Tegal saja, tetapi ada juga ada perwakilan dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan peserta OST dari Jawa Timur. Begitu pun dari luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB dan NTT.

            “Pentingnya keberadaan Posdaya guna menghadapi tantangan global. Menurutnya, Posdaya yang digagas Penasehat Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dinilai sebagai senjata utama untuk menghadapi perang proksi atau proxy war, yang saat ini telah berlangsung dan sedang dihadapi bangsa ini,” kata Ketua Yayasan Damandiri Subiakto Tjakrawerdaja.

            Menurut mantan Menteri Koperasi ini, proxy war itu perang yang tidak tembak-tembakan. Tapi perangnya dengan kekuatan yang lunak.

“Apalagi dengan kemajuan teknologi dan dunia maya. Yang diserang adalah, bagaimana ideologi suatu negara bisa dihilangkan. Ideologi bangsa kita, kalau bisa diganti,” ujar pria kelahiran Cilacap, Jateng, 30 Juli 1944 ini di hadapan ratusan peserta.

Lainnya yang diserang dengan kekuatan lunak ini, lanjut Subiakto, adalah mindset, mental, dan perilaku. Bangsa ini juga telah dirusak dengan peredaran narkoba, demikian pula dengan kampanye yang dilakukan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Pun demikian dari sisi pangan, bangsa Indonesia diserang begitu rupa sehingga mengalami ketergantungan pangan dari dunia luar. Pun begitu dengan energi. “Padahal, yang terpenting bagi suatu bangsa adalah ketersediaan pangan dan energinya,” kata Subiakto.

Jadi, kata dia, hingga detik ini tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia bukan bertambah ringan tapi bertambah berat. Bukan sekadar bagaimana mengatasi kemiskinan yang jumlahnya cukup besar, namun lebih dari itu, yang ternyata bukannya berkurang tapi malah bertambah. Apalagi, di tengah kondisi perekonomian yang saat ini semakin melemah, dan kemungkinan di tahun 2016 akan bertambah lemah.

Penduduk yang tadinya sudah agak sejahtera, lanjutnya, menjadi miskin karena harga kebutuhan bahan pokok sudah naik. Kondisi kemiskinan saat ini, lebih memberatkan karena tidak seperti dulu. Waktu itu tantangannya adalah bagaimana untuk bisa hidup sejahtera. Tapi sekarang, ada suatu kondisi lingkungan, yang lebih berat dari itu. Karena, adanya perang proksi tersebut.

“Jelas, konsep Posdaya yang digagas Pak Haryono menghadapi tantangan yang cukup besar,” tegas Subiakto.

Posdaya yang digagas Prof Haryono sekitar enam tahun lalu itu, tambah dia, dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan bangsa. Di samping, ada program yang dinamakan Millennium Development Goals (MDGs) yang merupakan kesepakatan negara-negara anggota PBB, diteruskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang saat ini telah bergulir.

Gagasan yang visioner itu, ternyata sangat tepat untuk menghadapi Perang Proksi. “Posdaya inilah, kata kunci untuk menangkal proxy war itu. Posdaya itu adalah senjata utama untuk menghadapi proxy war. Karena, Posdaya yang digagas Pak Haryono ini adalah suatu organisasi yang bisa membangkitkan kembali partisipasi masyarakat yang dilandasi semangat gotong royong,” ujar Dr Subiakto seraya menambahkan gotong royong ini merupakan esensi dari Pancasila guna menghadapi tantangan bangsa.

Tampak hadir dalam acara ini Drs Agus Subagyo, MM, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal, Direktur Pelaksana Yayasan Damandiri Dr Moch Soedarmadi, Deputi Direktur Umum Yayasan Damandiri Dr Mulyono D Prawiro, Direktur Senkudaya dan Tabur Puja Ir Sutarto Alimoeso, MM, Asisten Deputi Pelatihan Yayasan Damandiri Faozan Alfikri, SH, MKM, ratusan peserta OST dan undangan lainnya.

Pada para peserta, Ketua Yayasan Damandiri ini menegaskan, bahwa kehadiran para peserta OST untuk mendalami Posdaya merupakan langkah yang benar. “Hasil dari OST ini akan bermanfaat bagi pemberdayaan keluarga-keluarga miskin di Kabupaten Tegal. Namun juga dibutuhkan percepatan-percepatan dalam menghadapi tantangan global, yang sesungguhnya kita belum siap menghadapinya,” pungkasnya.


0 Comments

Leave a Reply