"Kerja Keras, Cerdas, Gotong-Royong"

6 month ago admin

Warung Makan ini Tetap Layani Mahasiswa yang Hutang

Warung Makan ini Tetap Layani Mahasiswa yang Hutang

KAMIS, 27 APRIL 2017

PADANG --- Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri --- Menjadi seorang pengusaha, tentu perlu untuk mengetahui potensi penjualan sebelum didirikannya tempat usaha. Hal ini dilakukan agar usaha yang dijalani memiliki omzet yang lebih.

Eli Suarnis.

Seperti halnya di lingkungan kampus, merupakan salah satu tempat yang strategis untuk mendirikan dan membuat usaha. Kondisi inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Eli Suarnis. Ia merupakan nasabah Tabur Puja, di Posdaya Bahari, Pasia Sabalah, Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, yang mendirikan usaha warung makan di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB).

Warung makan milik Eli Suarnis ini, sekilas memang tidak begitu menyangka bahwa isi warung makannya ternyata beragam makanan dan minuman. Seperti yang dikatakan oleh perempuan berusia 40 tahun ini, warung makannya ada jual pecel ayam, lele, sate, mie rebus, dan untuk minuman seperti teh poci, pop ice, dan jenis minuman warung lainnya.

"Di warung saya ini cukup ramai pelanggan yang pada umumnya merupakan mahasiswa. Biasanya, pukul 10.30 WIB warung saya ini sudah saya buka dan tutup hingga tengah malam," katanya, Kamis (27/4/2017).

Makanan yang dijual Eli Suarnis dibantu oleh anak gadisnya.

Usaha warung makan tersebut sudah dijalani oleh ibu empat orang ini selama dua tahun. Berkat menjadi nasabah Tabur Puja, usaha yang dijalani terus tumbuh dengan baik. Namun, yang namanya menjalani usaha di lingkungan kampus ada suka dan dukanya. Ia menyebutkan, tak jarang ada para mahasiswa yang sering berhutang belanja makan di warungnya. Meski demikian, Eli Suarnis tetap memberikan makan kepada para mahasiswa yang demikian, karena ia paham kesulitan mahasiswa tersebut. Apalagi anaknya juga ada yang merantau ke Jakarta.

"Sering ada yang menghutang juga, tapi itu tidak masalah, karena setiap mereka punya uang, mereka dengan jujur membayar hutang belanja makan di warung saya ini. Bagi saya, asalkan para mahasiswa ini bisa makan adalah hal yang terpenting. Lagian jumlah biaya makan yang dihutang tidak banyak," ucap Eli Suarnis.

Untuk satu porsi pecel ayam dan lele, Eli Suarnis menetapkan harga Rp16.000 per porsi dan dengan menjual makanan seperti mie rebus dan sate juga, omzet per hari Eli Suarnis mencapai Rp550.000. Baginya, penghasilan tersebut cukup untuk memutarkan modal usaha dan juga menambah belanja kebutuhan keluarga.

Menurut Eli, usaha warung makan yang dijalaninya itu untuk membantu usaha sang suami yang menjadi nelayan dan juga budidaya bibit lele. Apalagi mencari nafkah menjadi nelayan tidak selalu mendapatkan uang yang lebih. Oleh karena itu usaha warung miliknya bisa menopang kebutuhan keluarga.

Warung makan milik Eli Suarnis.

Perempaun kelahiran Surian, Kabupaten Solok ini, sebelum membuka usaha sendiri, juga pernah menjadi  tukang masak di salah satu rumah makan  di Kota Padang. Akan tetapi, seiring waktu berlalu, ia pun memiliki keinginan untuk membuka usaha sendiri. Akhirnya, kini Eli Suarnis bisa menikmati usaha warung makan yang tengah dirintisnya di lingkungan kampus tersebut.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra
http://www.cendananews.com/2017/04/warung-makan-ini-tetap-layani-mahasiswa.html

0 Comments

Leave a Reply