"Kerja Keras, Cerdas, Gotong-Royong"

7 month ago admin

Rakik Maco, Pedas, Racikan Nasabah Tabur Puja

Rakik Maco, Pedas, Racikan Nasabah Tabur Puja

RABU, 26 APRIL 2017

PADANG --- Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri --- Menjadi seorang single parent, membuat Yuniati harus bekerja keras untuk mencari nafkah menghidupi dirinya bersama satu orang anak semata wayangnya, yang kini duduk di bangku Sekolah Dasar. Yuniati yang saat ini tinggal di Pasia Sabalah, Kelurahan Pasia Nan Tigo, Padang, Sumatera Barat, tengah menjalankan usaha rakik maco (rampeyek ikan dorang).

Rakik Maco buatan Yuniati

Soal rasa, rakik maco olahan Yuniati ini benar-benar singgah di lidah. Karena lezatnya tidak hanya rasa ikan maconya saja, tapi rasa pedas campuran dari rakiknya melengkapi kerenyahan rakik mao olahan Yuniati. Usaha rakik maco yang merupakan khas makanan di Minangkabau tersebut, baru dijalaninya selama tiga tahun ini.

Sebelum memilih untuk menjalani usaha rakik maco, Yuniati juga telah berternak bebek yang jumlah hanya dua lusin atau sebanyak 24 ekor bebek betina dan dua ekor bebek jantan. Seiring waktu berlalu, Yuniati mencoba mengembangkan usaha baru, yakni membuat rakik maco, yang turut dibantu oleh saudaranya.

Yuniati menyebutkan, usaha rakik maco yang ditekuninya itu, semakin berkembang semenjak ia menjadi nasabah Tabur Puja di Posdaya Bahari, karena mendapatkan kepercayaan untuk mendapatkan pinjaman modal usaha. Meski pinjaman modal usaha itu sebagiannya juga digunakan untuk menambah ternak bebek miliknya, Yuniati juga tidak lupa untuk menambah modalnya untuk mengembangkan usaha rakik maco miliknya.

"Selain telah mendapat pinjaman modal usaha dari Tabur Puja untuk mengembangkan usaha rakik maco, ini, saya juga telah ikut beberapa kali pelatihan, dan juga telah menampilkan kue rakik maco saya ini pada pameran-pameran yang digelar oleh Pemerintah," katanya, Rabu (26/4/2017).

Namun, penghasilan yang dinikmati oleh Yuniati, saat ini, butuh proses yang panjang sehingga kue rakik maco miliknya memiliki pasar yang cukup menjanjikan. Dulu, ketika awal dirinya membuat rakik maco, orang yang membeli rakiknya hanya warga sekitar di Pasia  Sabalah. Seiring waktu berlalu, rakik maco Yuniati mulai dijual di warung-warung yang ada di sekitar Kelurahan Pasia Nan Tigo. "Rakik maco saya ini masuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH), jadi pemasarannya dibantu oleh PKH. Selain dijual di warung-warung, rakik maco saya ini juga ada dijual di belanja online dengan nama Kube Mitra Laut. Untuk online, lumayan juga pemesanan yang saya terima," ujarnya.

Yuniati

Yuniati menyebutkan, untuk penjualan online, ia biasa mendapat pesanan dari pembeli sebanyak 60 bungkus. Harga yang ditawarkannya untuk per bungkus kecil rakik maco hanya Rp10.000, dengan isi per bungkus sebanyak 70 rakik. Sedangkan untuk ukuran besar bungkus rakik maco, bisa mencapai Rp25.000.

Dalam membuat rakik maco, Yuniati biasa menghabiskan 10 kilogram tepung setiap harinya. Sementara untuk ikan maco, sekitar 1 kilogram, dengan cara dipotong-potong dengan ukuran kecil. Selain rakik maco, Yuniati juga tengah mencoba mengembangkan rakik kacang, tempe, dan rakik daun pepaya. Namun, mengingat rakik maco paling banyak peminatnya, Yuniati pun lebih memfokuskan membuat rakik maco. "Ke depan saya berencana akan membuka satu lapau nasi yang tak jauh dari rumah. Jadi, jika nanti sudah ada lapau nasi, rakik maco pun bisa dijual di lapau nasi, karena makan rakik maco ini paling enak dimakan dengan nasi dan sambal," tutupnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Muhammad Noli Hendra

0 Comments

Leave a Reply